Writing Challenge Day 5: My Parents

credit to unsplash



So around 1 year ago my friends and I did the 30 days writing challenge. But we never post them anywhere, we just keep it to ourselves. But today I decided to share the Day 5 only, and this post is dedicated to my parents. written in Bahasa Indonesia.


--------------------------------------------------------------------------


Day 5: My Parents


Aku bukanlah special snowflake. Aku terlahir dari keluarga general pada umumnya—yang biasa-biasa saja, tidak berlimpah namun tidak juga berkekurangan. Aku bukan orang yang terlahir dari persilangan suku-suku yang berbeda. Aku seorang Bali tulen, ayahku berasal dari Bali, pun juga ibuku. Kali ini, aku akan menceritakan seperti apa sosok di balik tumbuh kembangku selama 26 tahun ini.


Dimulai dari ayahku, aku memanggilnya Bapak. Bapak adalah anak keempat dari lima bersaudara, terlahir dari keluarga biasa di daerah Badung, Bali. Aku tidak memahami seperti apa hidup Bapak sebelum bertemu ibuku dan memiliki aku, dia tidak pernah menceritakannya. Bapak merupakan sosok yang kalem, pendiam, tidak terlalu banyak berhura-hura dengan teman-temannya, dan sering berdiam diri di rumah. Mungkin sifat-sifat dominan ini yang menurun ke pribadiku, menjadikan aku seorang homebody. Bapak terlahir di generasi yang berbeda dengan ibuku, bedanya mungkin sekitar sepuluh tahun. Itu membuatnya tidak mengerti banyak tentang penggunaan alat-alat mutakhir. aku ingat sewaktu aku kecil, Bapak memiliki pager yang ia gunakan untuk bekerja. sampai sekarang aku tidak tahu cara menggunakannya. Kalau sekarang aku tidak terbiasa berbalas pesan dengan Bapak, karena ia tidak memahaminya. Namun ia tetap bisa mengangkat dan menutup telepon. Bapak tidak sering berbicara denganku di telepon. Saat aku menelpon dengan ibuku, ia akan berada di sebelah ibu dan mendengarkan seluruh percakapan dengan seksama. Sesekali ia memujiku yang ada di dalam layar, “cantik sekali”, “ketawanya renyah sekali”, katanya. 


Bapak adalah orang pertama yang repot terhadap tugas sekolahku. Ketika tiba-tiba aku membutuhkan kertas untuk menganyam, membawa batang tanaman untuk distek, membutuhkan busung untuk dibawa ke sekolah, ia akan menyiapkannya. Pada tahun-tahun awal sekolah,  ketika aku masih tidak terbiasa makan nasi, Bapak akan membelikanku ayam goreng tepung yang aku sukai. Tidak banyak barang yang Bapak berikan kepadaku, tapi dia sering membelikan hal-hal yang sekiranya aku sukai ketika bepergian. tu artinya aku selalu ada di pikirannya.


Dulu sewaktu aku kecil, Bapak punya buku-buku yang tidak aku mengerti, salah satunya kamus Bahasa Perancis. mungkin Bapak bisa berbahasa Perancis, aku tidak tahu. Dia tidak pernah mempraktekkannya di rumah. belakangan ini Bapak memiliki hobi baru yaitu berkebun. Ia suka menanam bunga-bunga yang aku sukai, meskipun aku hanya melihat lewat foto dan video karena saat ini aku tidak tinggal di rumah. Ia pernah menanam bunga matahari, atau kebun luas penuh dengan marigold, juga bunga lainnya. Selain bunga, ia juga senang merawat dedaunan yang tidak kumengerti namanya. Bapak juga senang menanam tanaman yang bisa kita nikmati. Bapak pernah memanen kacang tanah, ia juga punya pohon jeruk dan sirsak.


Sekarang aku akan menceritakan sedikit tentang ibuku atau yang sehari-harinya kupanggil Mama. Mama berasal dari belahan Bali yang berbeda yaitu Buleleng, dan itu cukup jauh dari Badung tempat Bapak berasal. Mama adalah satu-satunya anak perempuan, dan bungsu di keluarganya. Namun sepertinya hal tersebut tidak membuat Mama menjadi sosok yang manja dan cengeng. Mama adalah sosok fighter yang selalu berani menerima tantangan. Ia sudah merasakan hidup merantau semenjak tamat SD. Mama pernah menceritakan kepadaku kalau Wayah—ayah dari Mamaku—mengatakan kalau ingin sukses tidak bisa hanya diam di Buleleng, sekolah di Denpasar akan membuka kesempatan yang lebih besar. Dan benar saja, karena Mama berani menerima tantangan itu sewaktu kecil, ia pun bisa menjadi dokter seperti sekarang. 


Mama memiliki pribadi yang cukup bertolak belakang dengan Bapak. Mama adalah sosok yang supel, punya banyak teman, easy going, dan sangat percaya diri. Sifat-sifat ini pun tampak pada adikku. Mama yang senang akan tantangan juga senang mempelajari hal baru dan mengambil kesempatan yang ada. Aku salut karena di umurnya yang sebenarnya tidak muda lagi, ia masih bisa melanjutkan studi, mengikuti pelatihan-pelatihan, dan lainnya. Mama sangat menginspirasiku untuk selalu mengambil kesempatan agar menjadi lebih baik.


Hal yang sangat disukai oleh Mama adalah memasak. Masakannya sangat enak sampai di titik dimana aku memikirkan apakah aku nanti bisa memasakkan anakku masakan yang enak-enak, karena aku sangat bahagia menjadi anak yang ibunya pintar memasak. Saat ini aku pun sedang belajar memasak, walaupun tentu saja penuh trial and error. Mama bisa mewujudkan apa saja yang anaknya inginkan. ketika aku nyeletuk menginginkan nasi padang, ia bisa memasakkan kami nasi padang, dengan rendang, sayur singkong, dan sambalnya.


Sebagai anak perempuan yang penuh dengan cerita dan pertanyaan, aku bersyukur memiliki ibu yang berpikiran terbuka dan siap menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Aku sering berbagi cerita dengan Mama, tentang apapun. Tentang aku yang skripsinya susah, aku yang sering merasa cemas ketika tinggal sendiri, saat aku naksir kakak tingkat, atau aku yang sangat suka dengan k-pop. Mama berusaha memahaminya dan mendengarkan ceritaku. Aku juga suka menanyakan hal-hal baru dan berdiskusi bersama. 


Aku tidak tahu apakah semua hubungan orang tua dan anak memang dekat seperti ini, tapi aku bahagia sekali karena walaupun aku tidak bisa memilih siapa yang akan menjadi ibu dan ayahku, ternyata aku dipasangkan dengan orang tua yang seperti Bapak dan Mama.





0 comment(s):

Post a Comment

 

Categories

EXO (2) Taylor Swift (3) concert (2) food (8) hobby (13) song (11) tips (2) vacation (16)

Pageviews

Meet me on Twitter

Popular